Sejak selesai menggunting rambutku sendiri tadi sore, aku teringat dengan ibuku. Ada banyak kejadian yang membuatku terkenang dengan beliau. Sudah hampir menuju setahun aku tidak pulang ke rumah orangtuaku dan sudah selama itu pula aku tidak berjumpa dengan ibuku.
Teringat ketika aku sakit tifus sewaktu kelas 1 SMP. Ibuku tidak menginginkan aku dirawat di rumah sakit, karena beliau tidak suka dengan rumah sakit dan tidak percaya dengan pelayanan rumah sakit umum di kota kelahiranku. Sampai akhirnya, aku dirawat di rumah oleh ibuku sendiri, padahal beliau harus bekerja ke kantor setiap hari. Setiap siang kembali ke rumah dari kantor beliau di Tanjung Pati, yang sedemikian jauhnya dari rumahku, untuk menyuapiku makan. Ketika malam, ketika temperatur badanku mulai naik, ketika perutku terasa mual, ketika aku tidak berhasrat untuk makan, ketika malam hari aku harus diantar ke dokter Cina langganan ibuku, Bu Linda, ibuku selalu ada untukku. Bukan ayahku.
Selepas aku mendapat pengumuman penerimaan mahasiswa melalui UM UGM, ibuku lah yang pertama kuberitahu dan beliau lah pertama yang menunjukkan raut wajah tak senang. Namun ketika ayahku tidak mengizinkan untuk kuliah ke Jawa, ibuku pulalah menjadi orang pertama yang membela keinginanku untuk meneruskan sekolah ke sana. Pun ketika aku hendak meneruskan sekolah master ke Bangkok, ibuku lah yang membelaku ketika ayah terus memintaku untuk bekerja ketimbang sekolah. Ibuku pulalah yang menghadiri acara wisudaku di UGM dan ibuku pulalah yang mengantarkan pertama kali ke Bangkok.
Selama aku bersama ibuku, baru dua kali kulihat ibuku menangis, ketika Nenekku meninggal dan ketika Paek (kakekku) meninggal. Kulihat mata beliau sembab ketika itu. Selebihnya beliau begitu kuat, begitu tegar. Beliau pun selalu memintaku untuk tidak menangis, untuk tegar menghadapi hidup. Ketika aku merantau ke Jogja, betapa seringnya aku menangis di telepon dengan beliau. Beliau selalu berkata, jangan bodoh, jangan menangis, kita harus tegar dan kuat menghadapi hidup. Pun ketika aku merantau ke Bangkok sekarang. Sudah edisi homesick ke ratusan mungkin.
Namun ada yang aneh. Sejak aku taman kanak-kanak hingga SMA, ibuku tak pernah datang ke sekolah untuk mengambil raporku. Pun ayahku. Beliau berdua tak pernah melihatku naik ke tangga juara dan mendengar namaku disebut sebagai salah satu juara kelas. Yang menjemput rapor selalu Etekku (adiknya ibuku). Dulu ketika sekolah aku pernah menangis karena ini, beliau berdua tak pernah datang untuk mengambil raporku, dan aku tak pernah mendapat hadiah dari beliau berdua atas usahaku menjadi juara kelas. Tapi tak mengapa, keinginanku belajar tak pernah surut karenanya.
Ibuku yang selalu mengingatku untuk selalu sholat wajib, sholat dhuha, sholat rowatib, sholat hajad, sholat tahajjud. Ibuku yang selalu mengingatkan untuk terus berusaha dan terus berdoa kepada Allah.
Maafkan anakmu ibu. Sudah lama tak meneleponmu, sudah lama tak pulang ke rumah kita. Maafkan aku Ibu, aku selalu berkutat dengan keinginanku, sampai aku lupa dengan keinginanmu. Aku sayang padamu Ibu.
Semoga Allah senantiasa menjaga orangtua kita ketika penjagaan kita tidak sampai kepada beliau berdua.
Bangkok, 11.07.2010
di saat homesick sangat, kejar tayang proposal, dan airmata mengalir deras

semangat mbak!
ayo mamanya ditelpon!!
ohohohohoh.
By: hayutyas on July 13, 2010
at 3:58 pm
Menggugah…
By: ksatria2610 on July 24, 2010
at 12:06 am