Sudah semenjak dua bulan terakhir, saya memutuskan untuk berangkat lebih awal ke kampus demi mengejar bis gratisan. Ya bis gratisan, bis yang ditujukan untuk orang-orang Thai kelas bawah. Bisnya berwarna merah putih, ada stiker biru di depannya, berlantai kayu, dan kursi lama yang di belakangnya selalu ditempeli stiker iklan bergambar wanita berpakaian minim memegang sebuah handphone, sebuah iklan handphone yang sesuai dengan kasta pengisi bis tersebut.
Inilah salah satu contoh bisnya. Bis gratis ini tidak ditujukan untuk orang bukan Thai alias foreigner. Di dalam bis, saya akan dikira sebagai orang Thai, karena Alhamdullillah wajah saya mirip dengan orang Thai yang agak sedikit Tionghoa. Hingga hari kemarin, kondektur masih mengenali saya sebagai orang Thai, hehe. Saya bisa berhemat 5 baht (sekitar 1500 rupiah) setiap pagi berangkat ke kampus.
Beginilah nasib menjadi mahasiswa di negeri orang, menjadi penikmat gratisan. Jika ada undangan makan ke KBRI, ada undangan makanan syukuran wisuda, ada undangan pengajian dari masyarakat Indonesia (MI), kita mengusahakan diri untuk datang agar bisa makan masakan Indonesia dengan gratis (meski sebenarnya tidak gratis, karena impas dengan biaya transportasi ke lokasi, hehe). Tapi, ada nikmat lainnya yang sangat berharga momennya, bisa berjumpa dengan rekan-rekan mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai universitas dan tempat di Thailand, bisa tertawa lepas ketika bertemu dengan mereka semua.
Ya, tertawa lepas. Satu hal yang kurindukan di akhir pekan, setelah 5 hari kerja berkutat dengan pekerjaan di kampus, tanpa tertawa lepas. Ketika bertemu dengan rekan-rekan di pengajian, tapi sayang di pertemuan pengajian terakhir terasa hambar, terasa tak hangat, terasa begitu serius. Sayang..


Mirip wajah orang thai?
hmm, bgtukah?
By: ksatria2610 on July 7, 2010
at 1:37 pm
Sepertinya begitu
Hanya mirip. Tak lebih.
By: narozana on July 8, 2010
at 2:53 am