Posted by: narozana | July 1, 2010

Wai-Kru day ceremony

Hormatilah dosen dan guru-guru kita. Beliau telah mengajari dan mendidik kita sejak di bangku taman kanak-kanak hingga sekarang. Di Thailand sendiri ada peringatan Hari Penghormatan untuk Dosen . Acara peringatan ini diawali oleh menyanyikan lagu bersama (dimana saya tidak hapal lagu itu), setelah itu dilanjutkan dengan pemberian bunga kreasi mahasiswa kepada dosen-dosen sebagai tanda penghormatan.

Berikutnya di acara tersebut, para mahasiswa akan sungkeman kepada dosen yang dia datangi dan memberikan seuntai bunga tanda penghormatan bernama garlands. Lalu sang dosen akan memberikan nasehat dan doanya teruntuk mahasiswa tersebut. Saya sangat terkesan dengan peringatan ini, karena membuat hubungan dosen dan mahasiswa menjadi lebih dekat dan ”terasa’ di hati.

Tak terasa, tahun ini merupakan kali kedua saya mengikuti Wai-Kru day ceremony di sekolah saya. Sedih, satu kata yang mewakili perasaan saya hari ini. Sedih dengan waktu setahun terakhir, menghilang dengan ketidakoptimalan. Saya datang terlambat pukul 10 pagi karena baru saja kembali dari rumah sakit, menemani seorang senior saya. Alhamdullillah acara yang seharusnya dimulai pukul 9 belum dimulai secara resmi. Dosen pertama yang saya datangi, memberi sungkeman dan garlands adalah mantan dosen pembimbing saya di tahun pertama kuliah. Beliau agak kaget, ketika saya menjadi pengantri kedua untuk sungkeman kepada beliau. Tetapi saya terharu sangat. Meski saya pernah mengecewakan beliau dengan kesalahan akademik saya, beliau tetap memberikan nasehat yang menjadi penambah semangat saya sekarang :

Be a Better Monna! if you have problem, you should solve it smartly. I wish you can finish your M.Phil in time.

Terimakasih Ajarn, saya paham bagaimana seharusnya diri ini berpikir profesional. Saya membayar mahal untuk ilmu ini.

Saya jadi teringat guru-guru saya, berjuta ucapan terimakasih saya berikan atas jerih payah Bapak dan Ibu mendidik saya, semoga di Indonesia nanti tidak lagi hanya ada kalimat : Guru, Pahlawan tanpa tanda jasa dimana Hari Guru hanya menjadi seremoni, tanpa ada penghargaan setulusnya.

1..Kepada Bu Dewi dan Bu Khairanis ketika di TK Dharma Wanita Payakumbuh, terimakasih Bu telah mengajarkan kepercayaan diri kepada Monna kecil.

2. Kepada Bu Ar, Bu Ta, Bu Ref, Bu Mel, Bu Yet, Bu Nel, Pak Bakri ketika saya sekolah di SD 02 Labuh Baru, terimakasih Bapak dan Ibu, masa sekolah dasar yang menyenangkan dan sering terlambat masuk kelas, hehe.

3. Bu Yat, Bu Nel, Bu Eri, Bu Yet, Bu As, dan Bapak serta Ibu di SMP 1 Payakumbuh. Satu kenangan yang paling membekas di masa SMP bersama Bu Eri, guru Bahasa Inggris kami bersama kawan-kawan III.5

4. Kepada Umi, Bu Vitalia, Pak Hermanto (yang telah memberi saya nilai 6 pada pelajaran Fisika di kelas I.8, hehehe), Bu Za, Bu Susi (almh) dan Bapak serta Ibu di SMA 2 Payakumbuh, terimakasih Bapak dan Ibu atas masa SMA yang berharga.

5. Kepada Bu Tami, Pak Andang, Pak Nazrul, Bu Ester, Bu Farida, Pak Kus, Pak Kutut, Pak Narno, Pak Sihana, Pak Ferdi, Pak Mondjo, dan Bapak dan Ibu di Teknik Fisika UGM., terimakasih Bapak dan Ibu untuk kebaikan dan ilmu. Terimakasih secara mendalam kepada Pak Andang yang telah menjadi pemantik semangat saya ketika jatuh bangun dalam mengerjakan skripsi.

Satu kata : TERHARU.

Rindu hati saya hendak bersilaturahim dengan beliau semua, sehingga tak malu airmata ini jatuh di studyroom lantai 5 T.T

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.