Sejak pulang dari NgajiMod semalam, lagu dari Bimbo ini senantiasa saya lantunkan.
Bermata tapi tak melihat
Bertelinga tapi tak mendengar
Bermulut tapi tak menyapa
Berhati tapi tak merasaBerharta tapi tak sedekah
Berbenda tapi tak berzakat
Berilmu tapi tak beramal
Berjalan tapi tak terarahSemoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian
Semoga kita menjauh dari sifat sedemikianBeramal tapi kurang ikhlas
Berjanji tapi suka lupa
Bergunjing hampir tiap hari
Berkata sering menyakitkanBermata tapi tak melihat
Bertelinga tapi tak mendengar
Bermulut tapi tak menyapa
Berhati tapi tak merasaBerharta tapi tak sedekah
Berbenda tapi tak berzakat
Berilmu tapi tak beramal
Berjalan tapi tak terarahSemoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian
Semoga kita menjauh dari sifat sedemikianBeramal tapi kurang ikhlas
Berjanji tapi suka lupa
Bergunjing hampir tiap hari
Berkata sering menyakitkanBermata tapi tak melihat
Bermata tapi tak melihat
Di dalam perjalanan dari Bangmod ke Petchburi dengan bis 140, saya melihat satu iklan perusahaan asuransi di sebuah sisi gedung yang kira-kira berbunyi seperti ini : We try to listen as soon as you can talk. Usaha pertama yaitu mendengar. Jika tidak salah fungsi makhluk yang pertama kali berkembang yaitu fungsi telinga. Sejak di dalam rahim ibu, kita telah bisa mendengar. Pun dengan kita diadzankan atau diiqomatkan pertama kali oleh ayah kita dalam rangka mendengar seruan dari Allah sejak pertama kali hidup di bumi ini. Allah memberi kita dua pasang telinga dan dua pasang mata, sedangkan Allah hanya memberi satu mulut. Harapannya adalah kita lebih mendengar dan melihat dibandingkan berbicara. Seringkali saya alami, hasrat berbicara kita terlalu besar dan hasrat untuk didengarkan juga tidak kalah besar. Sedangkan kesediaan kita untuk mendengar orang lain terlebih dahulu terasa kurang. Apalagi bagi kaum wanita, jika sudah bercerita, wah pantang kalah deh untuk bercerita duluan. Saya belum selesai bercerita di satu topik, eh teman saya sudah cerita lagi tentang dirinya. Haduh, karena seringnya seperti itu, saya cuma bisa menahan diri untuk bercerita pula. Akhirnya sejak SMA hingga kuliah pun saya lebih sering menjadi pendengar dan menjadi tempat sampah bagi teman-teman saya.
Berhati tapi tak merasa. Sungguh banyak saya lihat orang semacam ini. Kepekaan hati yang kurang dilatih. Oh Kawan kita hidup bersama orang lain. Kita pasti butuh orang lain. Saya betul-betul belajar tentang kepekaan hati sewaktu saya masih tinggal di Yasmin, karena pada awalnya saya adalah seorang yang egois dan tak peduli kepada orang lain. Tapi akhirnya waktu mengubahnya. Perlahan saya belajar untuk melatih kepekaan hati dan mendekat kepadaNya lebih dekat.
Ya, sebuah lagu yang sederhana. tetapi begitu dalam maknanya, sebagai pengingat bagi diri saya pribadi dan rekan-rekan sekalian.
*Di saat saya sedang sedikit kesal dan berusaha bersabar atas roommate saya. Berhati tapi tak merasa..

Komentator