Posted by: narozana | February 20, 2010

Hasrat untuk menikah

Sudah dalam rentang satu minggu, dari Sabtu pekan kemarin hingga Sabtu pekan ini, saya diundang pernikahan saudara muslim yang di Bangkok dan Pathumtani. Saya menyaksikan bagaimana bersemu merahnya wajah pengantin wanita dan merekahnya senyum pengantin pria. Terasa begitu sesak di dada melihatnya, hehe. *iri ceritanya.

Pengantin wanita dan dayang kecil..

Saya pun tak tahu apa yang saya rasakan sekarang hanya euforia. Saya teringat kembali, sejak memasuki umur 21 tahun saya sudah mulai berpikir tentang menikah dan berusaha belajar apapun tentangnya. Hal yang dipandang sederhana tapi sulit dalam aplikasi.

Ketika saya masih awal hidup di Jogja, di sebuah pondokan putri, saya termasuk orang yang sering dalam mengkritik mbak-mbak akhwat yang paling senang dengan topik menikah dalam setiap obrolan dan jokes. Tiap berkumpul di ruang tengah, tempat kami biasa berkumpul, topik obrolan selalu saja berputar-putar tentang menikah. Saya tidak suka dengan kondisi tersebut, menikah tidak sekedar bahan humor untuk tertawa, yang layak dilakukan adalah aksi nyata.

Saya pun pernah tak tahan dengan status dan notes di sebuah situs jejaring sosial seorang senior saya, yang isinya selalu tentang cinta dan menikah. Beliau lebih tua 4 tahun dari saya. Saya pikir tak baik lah terlalu seperti itu. Suatu ketika beliau mengajak saya chatting, dan di dalam obrolan tersebut saya sampaikan masukan saya kepada beliau. Tak perlu digembar gemborkan hal seperti itu.

Umur saya sekarang adalah umur yang sama dengan mbak-mbak akhwat di pondokan saya dahulu. Saya jadi tahu apa alasan mengapa selalu topik tersebut yang menjadi topik yang hangat di kala itu. Hasrat untuk menikah. Mungkin ini alasan yang tepat untuk mewakili semuanya. Saya pun jadi mengerti mengapa senior saya mengekspresikannya melalui status dan notes di situs jejaring sosial tersebut. Karena kami tidak bisa memperlihatkan hasrat itu secara lugas, mungkin lebih nyaman membicarakan hal tersebut dengan saudari-saudari kami saja. Mungkin lebih baik menyimpan rasa tersebut di dada atau mengekspresikannya melalui tulisan, lalu bersabar, daripada mengumbarnya kepada lawan jenis yang belum halal secara sia-sia.

Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ. “Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari “Aku akan memperhatikanmu untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia… ” Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. (Anis Matta)

Sekarang yang bisa lakukan sebelum datangnya fase itu adalah bersabarlah dan teruslah belajar untuk mengarungi tahap kehidupan setelah ini nanti menuju ridho Allah.

Semoga Allah memudahkan jodoh yang terbaik untuk kita ya Kawan..


Responses

  1. Esssaaaa dudududu.. Baru mampir niy.
    Like this ama postingan yg ini.
    Secara aq merasakan yg drasakan si mbak2. Wkwkwk..
    Tp tenang sa.. Qt salurkan pada hal lain. Yaitu berprestasi dan meningkatkan potensi diri. Yuuuhhuuuttt :P doain ya sa ;)

  2. Betul, betul..
    Makasi ya mbak sudah mampir. Salam kenal dari saya.
    Amin ya Allah, semoga kita diberikan jodoh yg terbaik..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.