Data termal seperti proximate dan ultimate analysis telah biasa digunakan dalam mengevaluasi batubara, biomas, dan bahan bakar lainnya. Dalam beberapa dekade terakhir, teknik analisis termal (TA = thermal analysis) seperti thermogravimetry analysis (TGA), differential thermal analysis, dan thermal mechanical analysis telah menjadi perhatian lebih dalam mengevaluasi karakter termal dari komponen bahan bakar tersebut.
Data yang diperoleh dari berbagai teknik di atas dapat menjadi informasi yang berguna dalam penentuan mekanisme reaksi, parameter kinetik, kestabilan termal, perubahan fase, panas reaksi, dan berbagai aspek lainnya terkait sistem reaksi gas-padat dan gas-cair.
TGA merekam perubahan berat dari sebuah sampel sebagai fungsi waktu atau temperatur. Jika kita mendifferensialkan kurva TGA, maka akan diperoleh DTG atau Differential Thermogravimetry Analysis. DTG membantu menyediakan informasi tentang parameter kinetik. Dari kurva DTG kita bisa mengetahui laju perubahan berat dari sebuah sampel sebagai fungsi waktu atau temperatur.
Teknik lain yang digunakan dalam analisis termal dari sampel organik yaitu proximate analysis, dimana dari teknik analisis ini kita mengetahui jumlah moisture content, total volatile matter, ash content, dan sebuah estimasi dari fixed carbon content.
Ultimate analysis digunakan untuk mengetahui jumlah komponen penyusun dari sampel organik, seperti batubara dan biomassa. Misalnya sebuah sampel batubara ingin diketahui berapa persen kandungan karbon, hidrogen, nitrogen, dan sulfurnya.

ckckckckc…..bahan bakar padat ya, wadauww dah lupa jauh sampe ke Maroko…tapi, secuil ingatan yg masih nyisa, karakteristik yg puueentinggg utk kategori bahan bakar padat yaitu HHV (Higher Heating Value), semakin besar nilainya maka ia semakin memiliki kemampuan generasi panas yg tinggi..mohon dibetulkan klo salah,,,,,,,,,
By: pandanaran on September 25, 2009
at 10:39 pm
iya, nilai kalor dari suatu bahan bakar padat juga penting dalam pemanfaatannya nanti.
By: narozana on September 25, 2009
at 11:45 pm