Banyak kisah yang saya lalui di Ramadhan 1430 Hijriah ini. Banyak pula airmata yang mengalir. Ramadhan tahun ini sungguh berbeda, mulai dari hikmat ketika sholat tarawih hari pertama hingga hari terakhir, hingga berbagai kisah lain yang tertoreh di Ramadhan tahun ini.
Shaum di sini terasa sedikit menantang, karena cuaca yang panas dan orang-orang yang makan di mana saja. Berbeda pastinya dengan Indonesia, yaang melarang berjualan dan merasa segan jika makan di depan orang yang sedang berpuasa. Pun dengan hawa-hawa setan ada dimana-mana. Jadi mudah emosi. Butuh kekuatan lebih untuk mengatur emosi ini dengan berbagai tekanan yang ada.
Setiap selesai sholat tarawih, seusai berdzikir bersama, saya selalu berlinang airmata. Ya Allah, dzikirnya begitu mendayu-dayu, mengena di kalbu.. Ya Robb, izinkan hamba kembali mengarungi RamadhanMu tahun depan..
Ada cerita berkesan ketika ifthor jama’i. Biasanya saya buka di Masjid Darussalam di dekat kampus atau di masjid Al Istikoma di dekat dormitory. Saya akan mulai cerita tentang Masjid Darussalam. Ifthor di sana selalu istimewa, komplit dengan buah, es sirop dan susu. Makanan untuk dinner pun nikmat. Namun cuma saya sendiri yang berlabel wanita di sana. Selebihnya mahasiswa-mahasiswa pria, baik bachelor atau master. Karena kabarnya tidak baik seorang wanita ifthor di masjid. Tetapi, saya tidak sepakat demikian. Toh masih ada Ibu-ibu yang bergabung ke sana. hehe..
Hati yang sedih, pikiran yang kacau, itulah gambaran selama sepekan terakhir Ramadhan. Ayahanda Mas Batih, kawan baik saya di JGSEE, kembali ke hadirat Allah. Saya benar-benar berempati kepada kawan baik saya itu, karena umur beliau hampir sama dengan bapak saya. Teringat papa, terbayang jika saya berada di posisi mas batih sekarang. Alangkah kalutnya, karena tiket pesawat tidak tersedia malam itu juga untuk berangkat ke Indonesia, tidak bisa bertemu ayahanda untuk terakhir kalinya. Sampai jam 4 pagi pada hari Kamis itu saya hanya bisa terus terisak dan belum bisa tertidur.
Besok Jumatnya kepala saya amat pusing. Rencana ke lab tidak jadi terlaksana pada hari itu. Saya kembali berlinang airmata, bagaimana nasib special study ini?? Waktu hanya tersisa hingga akhir bulan ini, itupun masih harus ditunda ujiannya hingga pekan pertama Oktober. ya Allah, mudahkanlah urusan hamba..
Ketika Sabtu pun saya telah berjanji untuk menjemput kawan baik saya di bandara Suvarnabhumi, Mas Nuring, yang baru pulang konferensi dari Roma dan jalan-jalan ke Paris. Kawan baik saya ini singgah 12 jam di Bangkok sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Taoyuan, Taiwan. Seharian pun saya berjalan-jalan bersama Mas Nuring, Mas Ery, dan Andhy, meski paginya saya terlambat untuk menjemput beliau di bandara. Akhirnya kami berbuka puasa di bandara dan menghabiskan malam takbiran bersama. Di bis pulang ke dormitory, orang tua saya menelpon. Ingin menangis, tapi rasanya malu menangis di dalam bis. Memohon maaf atas semua kesalahan saya kepada orangtua.
Ya Allah, Ramadhan tahun ini telah berakhir dengan banyak kisah, kesalahan, hikmah di dalamnya..
Sekarang bersiap dengan suka cita menyambut 1 Syawal, tidak dengan bersedih.
karena itulah pesan lembut terakhir dari Ramadhan tahun ini..

bukannya kamu di bis nangis dikit ya mon. wong kamu bilang ma aku. hehe
By: andhy on September 24, 2009
at 6:36 pm
kan nangisnya g ampe berlinang ndi.. cm sithik..
By: narozana on September 24, 2009
at 8:08 pm