Posted by: narozana | June 10, 2011

Mengerti

Begitu banyak yang kita pelajari dari bagaimana orang tua mendidik dan memperlakukan kita sedari kecil hingga di usia kita sekarang. Banyak hal yang ingin kita pertahankan untuk digunakan ketika kita mendidik anak-anak kita nanti. Namun begitu banyak pula yang tidak ingin kita gunakan.

Betapa saya ingin orang tua mengerti dengan apa yang saya butuhkan sekarang
Betapa saya ingin mereka berkata ‘Ya’

Posted by: narozana | February 22, 2011

Malas, pergilah!

Sudah hampir sebulan malas ini merajai diri. Ahhh malas, pergilah! Aku tak butuh dirimu sekarang. Waktuku tinggal sedikit. Yang harus kulakukan masih banyak.

Malas, pergilah!

Posted by: narozana | February 6, 2011

Merasa, entah sekedar hanya merasa

Begini ternyata rasanya melihat ia seperti itu. Terkejut. Kenapa semua harus melihat pada saat yang tidak tepat? Kenapa semua harus tertawa di atas kesalahannya? Kenapa semua sarannya dahulu  tidak sesuai dengan ia lakukan sekarang? Saya tak tahu bagaimana akhirnya jika sesuatu ia mulai dengan cara seperti ini. Mungkin tidak perlu berkata apa-apa, lebih baik. Balik ke ruang tawakkal.

Saya malu disebut sebagai bagian dari komunitas orang-orang baik ini. Terlalu banyak kesalahan diri.

Reslee Apartment, 204

– di saat diri merasa munafik dan hati merasa iba

Posted by: narozana | February 4, 2011

Harga diri

Ketika harga diri terlalu tinggi, yang benar bisa menjadi salah dan yang salah pun bisa menjadi benar.

Ada apa dengan manusia? Mengapa harga diri terlalu dijaga? Mengapa malu untuk mengakui kesalahan? Mengapa bertahan dengan sebuah kesalahan?

Tak habis pikir.. sulitkah untuk mengakui ”ya, saya salah” ?

Posted by: narozana | February 4, 2011

Hati-hati

Seseorang terdekat saya mengatakan sifat yang belum berubah dari diri saya semenjak dari 4 tahun yang lalu adalah begitu mudahnya saya menemukan hal negatif dari suatu kejadian aka bersuudzon. Benar adanya. Sinapsis di otak saya memproduksi penilaian negatif terhadap suatu hal dan kejadian, begitu kejadiannya terus menerus bertahun-tahun. Saya tidak bisa mengatakan semua itu atas nama sebuah kewaspadaan. Tentu tidak.  Bila suudzon timbul dan tidak sanggup lagi ditahan, saya akan marah atas hal tersebut. Dia mengatakan, saya adalah orang yang meledak-ledak jika marah. Sesuatu yang terjadi menjadi tidak terkendali.

Dia berkata, seseorang bisa dinilai berkualitas dari hal-hal mendasar yang bisa ia lakukan, bukan pada hal-hal tingkat lanjut yang bisa ia lakukan. Kita tak akan bisa naik level, jika level dasar tak kita kuasai. Bagaimana kita bisa menguasai integral, jika hitungan tambah tidak kita kuasai. Bagaimana kita bisa mengerti matematika teknik bila kalkulus dasar tidak kita mengerti. Jauhilah prasangka, belajarlah menahan.  Itu sudah seharusnya kita lakukan, menjadi hal yang mendasar yang harus kita miliki. Tak akan bedanya kita dengan manusia lain. Dia menunjukajarkan saya untuk berhati-hati dalam berkata, dalam bertindak. Sedikit yang kita katakan akan dipertanggungjawabkan, sedikit yang kita lakukan pun akan dipertanggungjawabkan.

Beberapa malam saya sering menangis karena hal ini. Saya salah. Salah yang bertahun-tahun.

Tak cukup waktu yang singkat untuk menguasai hal yang dasar ini. Namun ini hal yang mendasar, yang harusnya sejak sekolah dasar saya mengerti. Bukan di saat sekolah master seperti ini. Bagaimana dengan dirimu Kawan? di saat umurmu sekarang, sudahkah kamu menguasai hal yang dasar ini? Tak penting betapa hebatnya kamu sekarang, betapa cerdasnya kamu di suatu bidang, tetapi sudahkah kamu menguasai hal yang mendasar ini? Mari terus memperbaiki diri!

Dilarang suudzon, dilarang mencari-cari kesalahan. Berhati-hatilah.

Posted by: narozana | July 24, 2010

Mari berkuliner di Bangmod

Selamat pagi Sahabat, kali ini saya akan mengajak sahabat semua untuk mengenal lebih dekat sebuah area nan indah di seberang Sungai Chaopraya, yang sering diledek oleh beberapa orang teman saya dengan istilah ‘Bangkok coret’. Meski begitu, Bangmod tidak kalah menyenangkan bila dibandingkan dengan suasana di Bangkok pusat kota, karena suplai makanan nikmat serta halal yang mudah didapatkan.

Bangmod merupakan nama salah satu area yang (masih) termasuk ke Provinsi Bangkok. Di area inilah kampus yang bernama King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT) dan The Joint Graduate School of Energy and Environment (JGSEE) berada. Di kampus ini terdapat 25 orang mahasiswa Indonesia.

Ada seorang sahabat yang mengeluarkan pernyataan yang kira-kira berbunyi seperti ini : Belum disebut seseorang telah ke Bangkok, jika belum merasakan kuliner di Bangmod. Saya rasa pernyataan tersebut mungkin benar adanya. Bangmod menyediakan berbagai variasi makanan khas Thai dengan harga sesuai dengan yang kantong. Bagi sahabat yang muslim, Bangmod pun menjadi tempat yang menyenangkan untuk berburu makanan halal dan bersilaturahim dengan saudara-saudara Thai muslim. Karena di area Bangmod terdapat komunitas muslim dan beberapa masjid, sehingga makanan halal dengan menu yang variatif mudah ditemui.

Sebentar lagi pun bulan Ramadhan pun akan tiba. Saya ingin memberikan rekomendasi tempat jika sahabat hendak mencicipi kuliner di Bangmod ataupun hendak berbuka puasa dengan rasa yang berbeda. Rekomendasi yang saya berikan berdasarkan pengalaman saya berkuliner ria sejak saya menetap di Bangmod setahun terakhir sbb :

1. Mie bebek di Pasar 61

Pasar 61 terletak di Jalan PrachaUthit soi 61. Di pasar ini, terdapat 2 warung mie bebek. Mie bebek ini seperti mie pangsit, tapi diberi beberapa irisan daging bebek. Saya merekomendasikan warung mie bebek yang terletak di pojok depan pasar, sebelah Bank SCB. Mie bebek di warung tersebut tidak berasa anyir dibanding warung yang satunya, dan kuahnya pun terasa lebih segar dan mantap. Mmm, jadi ingin makan mie bebek nanti malam. Harga : 40 Baht.

2. Sop daging dan buntut di Pasar 61

Saya juga suka dengan sop daging ini, dagingnya terasa lembut dan kuahnya seperti rasa sop daging Padang. Warung sop ini terletak di bagian tengah pasar, namun agak ke belakang. Harga : 30 Baht atau bisa dipesan sesuai dengan keinginan.

3. Warung Nik Som

Nik Som adalah nama Ibu pemilik warung ini, Ibu yang baik hati dan mengerti dengan kebutuhan mahasiwa yang butuh energi besar. Nik Som selalu memberi makanan dengan porsi yang besar dan dengan menu yang variatif, tentunya porsi yang mahasiswa (saya) butuhkan, hehe. Warung ini terletak di depan Masjid Istikoma, jalan PrachaUthit soi 69. Favorit saya di sini adalah prik keng neak dan sop kencut alias sop tofu. Prik keng neak itu seperti tumisan daging dengan sayur yang berbumbu mantap seperti bumbu Padang. Di sini juga tersedia cha-yen yang lumayan enak dan juga martabak mesir serta martabak pisang.

Harga : variatif tergantung pesanan, rata-rata 30 Baht.

4. Som tam dan ayam baker depan Reslee Apartment

Seorang teman saya bilang, som tam di sini lebih enak dibanding di tempat lainnya. Som tam di sini diberi udang kering, bukan kepiting. Di warung ibunya ini juga tersedia tumisan daging dengan bumbu segar. Saya kurang tahu nama masakannya apa, tapi saya merekomendasikan ini untuk dicicipi. Harga som tam : 15 Baht. Harga tumisan daging : 25 Baht.

5. Cha-yen samping masjid

Saya adalah penikmat cha-yen. Saya telah merasakan cha-yen dari beberapa rentang harga dan lokasi di Bangkok. Saya merekomendasikan sahabat PERMITHA untuk mencicipi cha-yen di samping Masjid Al Istikoma, cha-yen dengan limpahan susu dan segarnya mantap di lidah. Harga : 17 Baht.

6. Bubur ayam

Sewaktu saya masih di Jogja, saya termasuk orang yang tidak menyenangi bubur ayam di warung Aa burjo. Namun sekarang saya menjadi penikmat bubur ayam. Bubur ayam yang terasa lembut dan hangat di lidah, diberi taburan ayam dan sen-mi (salah satu jenis mie yang tipis). Jika sahabat PERMITHA ingin bubur ayam yang lebih hangat, bisa diberi irisan jahe. Enak nian dan harganya pun ringan di kantong, hanya 15 Baht.

7. Bakso Bangmod

Bakso ini terletak di belakang masjid di PrachaUthit Soi 69. Bakso di sini memiliki banyak jenis, ada bakso daging bakar, ikan, otak-otak, tahu, sosis daging, dan lain-lain. Harga per tusuk 5 Baht. Ada beberapa sahabat yang sampai ngidam lho dengan bakso ini, hehe.

8. Kao-kao yang bukan kao-kao

Saya dan teman-teman menyebut tempat makan buffet dimana bisa makan sepuasnya dengan sebutan 99 atau kao-kao. Karena biasanya kita bisa menikmati makan sepuasnya di Ramkhamheng area, dengan harga 99 Baht. Namun sekarang warung tersebut telah ditutup, bisa jadi akibat kita makan terlalu puas, hehe. Nah sekarang di Bangmod terdapat tempat makan sepuasnya tersebut, namun harganya bukan 99 Baht, sedikit lebih mahal. Terakhir saya makan di sana bersama teman-teman, kita membayar 140 Baht per orang sudah termasuk minum dan es. Menurut saya, makanannya lebih variatif dibanding warung 99 di Ramkhamheng. Lokasi warung ini di jalan PrachaUthit Soi 93.

9. Warung Pojok

Sebenarnya nama warung ini bukan warung Pojok dan juga tidak terletak di pojok, hehe. Nama ini diberikan oleh senior-senior saya di KMUTT. Warung ini terletak di depan kampus dengan menu yang variatif pula. Saya suka sekali dengan kao pat alias nasi goreng di sini. Nasi goreng dengan rasa yang sederhana, nasi goreng yang mengingatkan dengan nasi goreng di depan Kedokteran Gigi UGM. Cha-yen di sini juga enak. Harga : variatif tergantung menu, rata-rata 35 Baht.

10. Kantin KMUTT

Ada 2 kios makanan halal di KMUTT Food Center dengan makanan yang variatif pula. Ada satu makanan favorit saya, bakmi heng. Mmm, bakmi heng terdiri dari mie, irisan daging, irisan telur rebus, dan berkuah kari yang mantap. Harga : variatif tergantung menu, rata-rata 25 Baht.

Mmm, segitu dulu ya rekomendasi alternatif berkuliner di Bangmod. Sekarang bagaimana cara menuju ke Bangmod? Berikut saya berikan alternatif transportasi menuju ke Bangmod :

  • Dari MBK, Siam Paragon, Chulalongkorn Univ : Bis no. 141, 21.

Bis no. 141 : turun di Kilo Kao, disambung naik Song Tew warna merah.

Bis no. 21 : Langsung menuju ke Bangmod ( jalan PrachaUthit)

  • Dari Victory Monument, seberang KBRI, dari seberang Panthip : Bis no. 140.

Bis no. 140 : turun di Kilo Kao, disambung naik Song Tew warna merah.

  • Dari Chatuchak : Bis no. 138

Bis no. 138 : turun di Kilo Kao, disambung naik Song Tew warna merah.

  • Dari BTS mana saja : turun di BTS Saphan Thaksin, disambung dengan bis no. 75, lalu turun di KMUTT. Alternatif lain dari BTS Saphan Thaksin, naik boat menyeberang sungai dan dilanjut naik taksi.
  • Dari lokasi mana saja : naik taksi.

Baik, selamat berkuliner di Bangmod ya. Jika membutuhkan guide atau bantuan, silakan hubungi saya atau rekan-rekan KMUTT lainnya.

*Artikel ini juga dapat dilihat : http://permitha.net/2010/07/mari-berkuliner-di-bangmod/

Posted by: narozana | July 12, 2010

Homesick edisi ratusan

Sejak selesai menggunting rambutku sendiri tadi sore, aku teringat dengan ibuku. Ada banyak kejadian yang membuatku terkenang dengan beliau. Sudah hampir menuju setahun aku tidak pulang ke rumah orangtuaku dan sudah selama itu pula aku tidak berjumpa dengan ibuku.

Teringat ketika aku sakit tifus sewaktu kelas 1 SMP. Ibuku tidak menginginkan aku dirawat di rumah sakit, karena beliau tidak suka dengan rumah sakit dan tidak percaya dengan pelayanan rumah sakit umum di kota kelahiranku. Sampai akhirnya, aku dirawat di rumah oleh ibuku sendiri, padahal beliau harus bekerja ke kantor setiap hari. Setiap siang kembali ke rumah dari kantor beliau di Tanjung Pati, yang sedemikian jauhnya dari rumahku, untuk menyuapiku makan. Ketika malam, ketika temperatur badanku mulai naik, ketika perutku terasa mual, ketika aku tidak berhasrat untuk makan, ketika malam hari aku harus diantar ke dokter Cina langganan ibuku, Bu Linda, ibuku selalu ada untukku. Bukan ayahku.

Selepas aku mendapat pengumuman penerimaan mahasiswa melalui UM UGM, ibuku lah yang pertama kuberitahu dan beliau lah pertama yang menunjukkan raut wajah tak senang. Namun ketika ayahku tidak mengizinkan untuk kuliah ke Jawa, ibuku pulalah menjadi orang pertama yang membela keinginanku untuk meneruskan sekolah ke sana. Pun ketika aku hendak meneruskan sekolah master ke Bangkok, ibuku lah yang membelaku ketika ayah terus memintaku untuk bekerja ketimbang sekolah. Ibuku pulalah yang menghadiri acara wisudaku di UGM dan ibuku pulalah yang mengantarkan pertama kali ke Bangkok.

Selama aku bersama ibuku, baru dua kali kulihat ibuku menangis, ketika Nenekku meninggal dan ketika Paek (kakekku) meninggal. Kulihat mata beliau sembab ketika itu.  Selebihnya beliau begitu kuat, begitu tegar. Beliau pun selalu memintaku untuk tidak menangis, untuk tegar menghadapi hidup. Ketika aku merantau ke Jogja, betapa seringnya aku menangis di telepon dengan beliau. Beliau selalu berkata, jangan bodoh, jangan menangis, kita harus tegar dan kuat menghadapi hidup. Pun ketika aku merantau ke Bangkok sekarang. Sudah edisi homesick ke ratusan mungkin.

Namun ada yang aneh. Sejak aku taman kanak-kanak hingga SMA, ibuku tak pernah datang ke sekolah untuk mengambil raporku. Pun ayahku. Beliau berdua tak pernah melihatku naik ke tangga juara dan mendengar namaku disebut sebagai salah satu juara kelas. Yang menjemput rapor selalu Etekku (adiknya ibuku). Dulu ketika sekolah aku pernah menangis karena ini, beliau berdua tak pernah datang untuk mengambil raporku, dan aku tak pernah mendapat hadiah dari beliau berdua atas usahaku menjadi juara kelas. Tapi tak mengapa, keinginanku belajar tak pernah surut karenanya.

Ibuku yang selalu mengingatku untuk selalu sholat wajib, sholat dhuha, sholat rowatib, sholat hajad, sholat tahajjud. Ibuku yang selalu mengingatkan untuk terus berusaha dan terus berdoa kepada Allah.

Maafkan anakmu ibu. Sudah lama tak meneleponmu, sudah lama tak pulang ke rumah kita. Maafkan aku Ibu, aku selalu berkutat dengan keinginanku, sampai aku lupa dengan keinginanmu. Aku sayang padamu Ibu.

Semoga Allah senantiasa menjaga orangtua kita ketika penjagaan kita tidak sampai kepada beliau berdua.

Bangkok, 11.07.2010

di saat homesick sangat, kejar tayang proposal, dan airmata mengalir deras

Posted by: narozana | July 9, 2010

Merindui – grow old with you

———————————————————————————–

Seorang teman tanteku berinisial RM bertanya kepadaku melalui chat beberapa menit yang lalu.

RM : Sudah berumahtangga Mon?.

M : Silakan lihat di profile-ku (merujuk ke profile-ku di facebook).

RM : Kok belum menikah Mon?.

M : hening    *bingung mau jawab apa.

M : masih berumur 23.

RM : Itu sudah termasuk kategori terlambat bagi wanita.

M : (kaget, menusuk perkataannya).

M : Masak? Kenapa bisa?

RM : Ya iyalah. Sekarang 23, berapa tahun sekolahnya? 2 tahun? 3 tahun?

M : insyaAllah 2 tahun.

RM : 23 + 3 = 26 atau 25.

M : Terus, kenapa emangnya kalo umur 25?

RM : Ya, mulai buka lah rencana untuk menikah.

M : Sudah dibuka kok, hehe.

RM : Sudah punya jodoh?

M : Sudah, tapi masih di langit namanya.

RM : Masih sendirian namanya itu.

Ketika selesai chat, ketika itu pula saya melihat postingan sebuah link di wall kembaran saya, Mbak Mayang Sabrina, sebuah video lagu.

- Adam Sandler Grow Old With You -

I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
Oh all I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I’ll miss you
K*ss you
Give you my coat when you are cold

Need you
Feed you
Even let you hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed when you’ve had too much to d*ink
I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you
 ——————————————————————————————–

Kembali airmata ini berlinang. Ya Allah, baru seminggu saya menginjak di umur 23 ini. Ternyata hal seperti ini yang akan mewarnai hidup saya hingga saya menikah nanti. Pertanyaan inilah yang akan sering terlontar dari orang-orang hingga datang saatnya waktu untuk saya menikah. Mungkin ketika nanti saya sudah menikah, akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru lagi dari orang-orang, kapan akan punya anak? kapan akan menambah adik untuk si sulung? Sungguh tak akan pernah habis-habisnya pertanyaan dari orang-orang.
Manusia memang diciptakan tak pernah puas. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah melakukan yang terbaik di fase hidup ini sekarang. Sekarang saya diberikan kesempatan sekolah, diberikan pengalaman bagaimana rasanya gagal di sembilan SKS, diberikan begitu banyak pengalaman untuk menjadi seorang dewasa.  Saya yakin, Allah tak pernah menyia-nyiakan hambaNya. Semuanya akan indah pada waktunya. Yakinlah skenario Allah jauh lebih indah daripada rancangan hidup yang telah kita susun sematang apapun. Mudahkanlah semua urusan hidupku di dunia dan di akhirat ya Robb..
Bangkok, 09/07/2010, di saat jam menunjukkan 1:45 AM dan di saat airmata mengalir.
Posted by: narozana | July 5, 2010

Mengejar bis gratisan

Sudah semenjak dua bulan terakhir, saya memutuskan untuk berangkat lebih awal ke kampus demi mengejar bis gratisan. Ya bis gratisan, bis yang ditujukan untuk orang-orang Thai kelas bawah. Bisnya berwarna merah putih, ada stiker biru di depannya, berlantai kayu, dan kursi lama yang di belakangnya selalu ditempeli stiker iklan bergambar wanita berpakaian minim memegang sebuah handphone, sebuah iklan handphone yang sesuai dengan kasta pengisi bis tersebut.

Inilah salah satu contoh bisnya. Bis gratis ini tidak ditujukan untuk orang bukan Thai alias foreigner. Di dalam bis, saya akan dikira sebagai orang  Thai, karena Alhamdullillah wajah saya mirip dengan orang Thai yang agak sedikit Tionghoa. Hingga hari kemarin, kondektur masih mengenali saya sebagai orang Thai, hehe. Saya bisa berhemat 5 baht (sekitar 1500 rupiah) setiap pagi berangkat ke kampus.

Beginilah nasib menjadi mahasiswa di negeri orang, menjadi penikmat gratisan. Jika ada undangan makan ke KBRI, ada undangan makanan syukuran wisuda, ada undangan pengajian dari masyarakat Indonesia (MI), kita mengusahakan diri untuk datang agar bisa makan masakan Indonesia dengan gratis (meski sebenarnya tidak gratis, karena impas dengan biaya transportasi ke lokasi, hehe). Tapi, ada nikmat lainnya yang sangat berharga momennya, bisa berjumpa dengan rekan-rekan mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai universitas dan tempat di Thailand, bisa tertawa lepas ketika bertemu dengan mereka semua.

Ya, tertawa lepas. Satu hal yang kurindukan di akhir pekan, setelah 5 hari kerja berkutat dengan pekerjaan di kampus, tanpa tertawa lepas. Ketika bertemu dengan rekan-rekan di pengajian, tapi sayang di pertemuan pengajian terakhir terasa hambar, terasa tak hangat, terasa begitu serius. Sayang..

Posted by: narozana | July 1, 2010

Wai-Kru day ceremony

Hormatilah dosen dan guru-guru kita. Beliau telah mengajari dan mendidik kita sejak di bangku taman kanak-kanak hingga sekarang. Di Thailand sendiri ada peringatan Hari Penghormatan untuk Dosen . Acara peringatan ini diawali oleh menyanyikan lagu bersama (dimana saya tidak hapal lagu itu), setelah itu dilanjutkan dengan pemberian bunga kreasi mahasiswa kepada dosen-dosen sebagai tanda penghormatan.

Berikutnya di acara tersebut, para mahasiswa akan sungkeman kepada dosen yang dia datangi dan memberikan seuntai bunga tanda penghormatan bernama garlands. Lalu sang dosen akan memberikan nasehat dan doanya teruntuk mahasiswa tersebut. Saya sangat terkesan dengan peringatan ini, karena membuat hubungan dosen dan mahasiswa menjadi lebih dekat dan ”terasa’ di hati.

Tak terasa, tahun ini merupakan kali kedua saya mengikuti Wai-Kru day ceremony di sekolah saya. Sedih, satu kata yang mewakili perasaan saya hari ini. Sedih dengan waktu setahun terakhir, menghilang dengan ketidakoptimalan. Saya datang terlambat pukul 10 pagi karena baru saja kembali dari rumah sakit, menemani seorang senior saya. Alhamdullillah acara yang seharusnya dimulai pukul 9 belum dimulai secara resmi. Dosen pertama yang saya datangi, memberi sungkeman dan garlands adalah mantan dosen pembimbing saya di tahun pertama kuliah. Beliau agak kaget, ketika saya menjadi pengantri kedua untuk sungkeman kepada beliau. Tetapi saya terharu sangat. Meski saya pernah mengecewakan beliau dengan kesalahan akademik saya, beliau tetap memberikan nasehat yang menjadi penambah semangat saya sekarang :

Be a Better Monna! if you have problem, you should solve it smartly. I wish you can finish your M.Phil in time.

Terimakasih Ajarn, saya paham bagaimana seharusnya diri ini berpikir profesional. Saya membayar mahal untuk ilmu ini.

Saya jadi teringat guru-guru saya, berjuta ucapan terimakasih saya berikan atas jerih payah Bapak dan Ibu mendidik saya, semoga di Indonesia nanti tidak lagi hanya ada kalimat : Guru, Pahlawan tanpa tanda jasa dimana Hari Guru hanya menjadi seremoni, tanpa ada penghargaan setulusnya.

1..Kepada Bu Dewi dan Bu Khairanis ketika di TK Dharma Wanita Payakumbuh, terimakasih Bu telah mengajarkan kepercayaan diri kepada Monna kecil.

2. Kepada Bu Ar, Bu Ta, Bu Ref, Bu Mel, Bu Yet, Bu Nel, Pak Bakri ketika saya sekolah di SD 02 Labuh Baru, terimakasih Bapak dan Ibu, masa sekolah dasar yang menyenangkan dan sering terlambat masuk kelas, hehe.

3. Bu Yat, Bu Nel, Bu Eri, Bu Yet, Bu As, dan Bapak serta Ibu di SMP 1 Payakumbuh. Satu kenangan yang paling membekas di masa SMP bersama Bu Eri, guru Bahasa Inggris kami bersama kawan-kawan III.5

4. Kepada Umi, Bu Vitalia, Pak Hermanto (yang telah memberi saya nilai 6 pada pelajaran Fisika di kelas I.8, hehehe), Bu Za, Bu Susi (almh) dan Bapak serta Ibu di SMA 2 Payakumbuh, terimakasih Bapak dan Ibu atas masa SMA yang berharga.

5. Kepada Bu Tami, Pak Andang, Pak Nazrul, Bu Ester, Bu Farida, Pak Kus, Pak Kutut, Pak Narno, Pak Sihana, Pak Ferdi, Pak Mondjo, dan Bapak dan Ibu di Teknik Fisika UGM., terimakasih Bapak dan Ibu untuk kebaikan dan ilmu. Terimakasih secara mendalam kepada Pak Andang yang telah menjadi pemantik semangat saya ketika jatuh bangun dalam mengerjakan skripsi.

Satu kata : TERHARU.

Rindu hati saya hendak bersilaturahim dengan beliau semua, sehingga tak malu airmata ini jatuh di studyroom lantai 5 T.T

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.